Kamis, 22 Mei 2014

Alexander : Vampire Hunter





Seorang laki-laki tampan bermuka pucat memasuki sebuah bar yang terletak di pinggiran kota, berjalan seolah tak seorangpun melihatnya masuk. Dengan mengenakan setelan jas klasik berwarna hitam berkancing keemasan dan celana bahan yang sewarna dengan jasnya, laki-laki itu mengambil tempat duduk di sudut ruangan. Terdapat ukiran huruf Eropa kuno dengan bentuk mirip huruf “S” di kancing emasnya. Rambutnya hitam berminyak dan pendek, layaknya seorang Don pada film Godfather. Matanya biru memandang tajam, membuat setiap wanita yang melihatnya terpesona. Saputangan putih mencuat lancip di saku jasnya, menambah kesan bahwa dia bukanlah laki-laki sembarangan.



 Laki-laki itu mengangkat tangannya ke arah bartender. Bartender pun mengangguk takzim dan membisikkan sesuatu kepada salah satu anak buahnya. Tak berapa lama, pelayan bar yang berwajah sedikit pucat dengan sedikit garis hitam dibawah mata, mendekatinya membawakan gelas sampanye dengan isi cairan kental berwarna merah. Setelah meletakan pesanan langganannya di atas meja, pelayan itu membungkuk dengan hormat memohon diri. 


Alexander Vampire Hunter Part I




(PART II)

Aku duduk bersandar di tiang penyangga pos kamling sambil memeluk gitar kesayangan, hidupku terasa tak bergairah. Sejak kejadian di villa anyer, hari terasa silih berganti begitu cepat, rutinitasku berjalan monoton tanpa jeda. Bangun, sekolah, pulang, belajar, pos kamling ditambah dengan makan, minum, tidur dan aktivitas di kamar mandi. Semuanya kulalui tanpa merasakan maknanya. Mungkin memang benar syair dalam lagu yang dinyanyikan Rhoma Irama, “hidup tanpa Cinta, bagai taman tak berbunga...”

            Cinta memang ada dalam hidupku, namun aku yang tak ada dalam hidupnya. Benar kata pepatah, Cinta sejati lebih berarti daripada Cinta palsu. Cinta selalu berkata “sayang”, “love you”, “miss you” dan sebangsanya, namun semua itu palsu. Semua kasih sayang semu itu berasal dari efek minyak pelet yang diberikan Pak Pujo padaku. Terlebih lagi “kejadian” di villa yang membuatku dihantui rasa bersalah padanya. 

Pelet (untuk) Cinta Part II


Pelet Untuk Cinta



            Hari pertama masa orientasi di sekolahku ada satu hal yang ku sadari, ada seorang selebriti indonesia yang satu sekolah denganku. Seorang gadis cantik blasteran Indonesia-Jerman yang terkenal dengan jargon : “Udah beychek gha ada oyjeck..”, Cinta Laura Kiehl namanya. Semasa smp aku hanya melihatnya melihatnya di layar kaca. Sekarang aku begitu dekat dengannya. Sangat dekat karena dia duduk di sebelahku sambil memperhatikan pak Yono, kepala sekolah kami memberi sambutan pembukaan acara MOS.

            Tak sedikitpun ku dengar apa yang dikatakan pak Yono. Pikiran dan mataku berkonsentrasi pada bidadari berkulit merah muda yang ada di sebelahku ini. Sesering mungkin aku mencuri pandang padanya.

“Cantiknya makhluk Tuhan yang satu ini,” aku bergumam dalam hati.

Sekali pandangan mata kami bertemu, dia tersenyum kepadaku.

“Manisnya gadis ini..”kembali aku menarik nafas panjang.


Pikiranku melayang, tangan kananku menopang dagu, melamun membayangkan kami berdua berjalan berpegangan tangan di lorong sekolah ini. Pasti banyak yang akan iri padaku.

Pelet (untuk) Cinta Part I